font-weight:bold;"> Selamat Datang dibolg Media pembelajaran yang merupakan alat bantu proses belajar mengajar saya

Selasa, 03 Juni 2014

TEORI-TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Posted by Bahtiar on 05.32



TEORI-TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Ada beberapa teori belajar dan pembelajaran dalam dunia pendidikan, dimana setiap teori memiliki aspek penekanan yang berbeda dalam proses implikasinya. Teori-teori tersebut antara lain teori behavioristik, teori belajar kognitif, teori belajar kostruktivistik, teori belajar humanistik, teori belajar sibernetik, teori belajar sosial kultural dan teori kecerdasan ganda.

A.    TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Pengertian belajar menurut pandangan teori behavioristik, adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar jika ia telah menunjukan  perubahan tingkah laku.
Menurut teori ini, yang terpenting adalah masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau out put yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi diantara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan, karena tidak dapat diamati dan diukur. Yang hanya dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa saja yang diberikan guru (stimulus), dan apa yang dihasilkan siswa (respon), semuanya dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting dari teori behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon akan tetap dikuatkan.
Tokoh-tokoh penting dalam teori behavioristik antara lain :

1.      Torndike, meurutnya belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Teori Torndike ini disebut juga aliran koneksionisme (Connectionism)
2.      Watson, menurutnya belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur.
3.      Clark Hull, menurutnya belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun menurutnya setiap stimulus yang diberikan harus berhubungan dengan kebutuhan dan pemuasan biologis.
4.      Edwin Guthrie, menurutnya belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, dimana stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan dan pemuasan bilogis. Dijelaskan bahwa hubungan antara stimulus dan respon cendrung hanya bersifat sementara. Oleh sebab itu dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat tetap.
5.      Skinner, menurutnya belajar adalah hubungan antara stimulus dan respon  yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulakn perubahan tingkah laku. Dikatakan bahwa respon yang diberikan seseorang/siswa tidaklah sesederhana itu, sebab pada dasrnya stimulus-stimulus yang diberikan kepada seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara stimulus-stimulus tersebut akan mempengaruhi bentuk respon yang akan diberikan.
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahw kegiatan belajar ditekankan sebagai aktivitas ”mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar. Jawaban yang benar menunjukan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.

B.     TEORI BELAJAR KOGNITIF DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Pengertian belajar menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pemehaman, yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi teori ini adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang telah dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang. Teori kognitif lebih mementingkan proses belajar bukan pada hasil belajar.
Teori ini berpendapat bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Belajar merupakan aktifitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.
Dalam praktek-praktek pembelajaran, teori-teori kognitif antara lain tampak dalam rumusan-rumusan seperti ”tahap-tahap perkembangan” oleh J.Piaget, Advanced organizer oleh Ausebeel, pemahaman konsep oleh Brunner, hirarki belajar oleh Gagne, Webteaching oleh Norman dan sebagainya.
Diantara para pakar teori kognitif, paling tidak ada tiga yang terkenal yaitu:
1.      J.Piaget, menurutnya kegiatan belajar terjadi sesuai dengan pola-pola perkembangan tertentu dan umur seseorang, serta melalui proses asimilasi, akomodasi dan equilibrasi. Tahap-tahap perkembangan itu adalah :
·         Tahap Sensorimotor (umur 0-2 tahun)
·         Tahap preoperasional (umur 2-7/8 tahun)
·         Tahap operasional konkret (umur 7/8-11/12 tahun)
·         Tahap operasional formal (umur 11/12-18 tahun)
Menurutnya , proses belajar akan terjadi jika melalui tahap-tahap asimilasi, akomodasi dan equilibrasi/penyeimbangan. Asimilasi merupakan proses pengintegrasian atau penyatuan informasi baruke dalam struktur kogniitif yang telah dimiliki oleh seseorang. Akomodasi merupakan proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru, sedangkan equilibrasi merupakan penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
2.      Brunner,dengan teorinya free discovery learning mengatakan bahwa belajar terjadi lebih ditentukan oleh cara seseorang mengatur pesan/informasi, dan bukan ditentukan oleh umur. Menurut Brunner tahap perkembangan kognitif terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu:
·         Tahap Enaktif, seseorang melakukan aktifitas-aktivitas dalam upayanuntuk memahami lingkungan sekitarnya, artinya dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dsb.
·         Tahap Ikonik, seseorang memahami objek-objek/dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal, maksudnya dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan(tampil) dan perbandingan(komparasi).
·         Tahap Simbolik, seseorang telah mampuh memiliki ide-ide/gagasan-gagasan abstrak yang sangat mempengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika
3.      Ausubel, menurutnya bahwa proses belajar terjadi jika seseorang mampuh mengasimilasikan pengetahuan yang yelah dimilikinya dengan pengetahuan baru. Proses belajar melalui tahap-tahap memperhatikan stimulus, memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami.


C.     TEORI BELAJAR KONTRUKTIVISTIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Apa pengetahuan itu? Menurut pendekatan konstruktivistik, pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya.
Proses Mengkonstruksi Pengetahuan
1.      Von Galserfeld, mengemukakan bahwa ada beberapa cara/kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu:
·         Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengelaman
·         Kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan
·         Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada yang lainnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi  proses mengkonstruksi pengetahuan adalah konstruksi pengetahuan seseorang yang telah ada, dominan pengetahuan dan jaringan struktur kognitif yang dimilikinya.
Proses belajar aebagai suatu usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalaman melalui proses asimilasi dan akomodasi, akan membentuk suatu konstruksi pengetahuan yang menuju pada kemutakhiran struktur kognitif. Guru-guru konstruktivistik yang mengakui dan menghargai dorongan diri manusia/siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri, kegiatan pembelajaran yang dilakukannya akan diarahkan agar terjadi aktivitas konstruksi pengetahuan oleh siswa secara optimal.
Karakteristik pembelajaran yang dilakukannya adalah:
a.       Membebaskan siswa dari belenggu kurikulum yang berisi fakta-fakta lepas yang sudah ditetapkan, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide-idenya secara lebih luas.
b.      Menempatkan siswa sebagai kekuatan timbulnya interes, untuk membuat hubungan diantara ide-ide atau gagasannya, kemudian memformulasikan kembali ide-ide tersebut, serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
c.       Guru bersama-sama siswa mengkaji pesan-pesan penting bahwa dunia adalah kompleks, dimana terdapat bermacam-macam pandangan tentang kebenaran yang datang dari berbagai interpretasi.
d.      Guru mengakui bahwa proses belajar serta penilaiannya merupakan suatu usaha yang kompleks, sukar dipahami, tidak benar dan tidak mudah dikelolah.

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin

Search Site