TEORI-TEORI
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Ada
beberapa teori belajar dan pembelajaran dalam dunia pendidikan, dimana setiap
teori memiliki aspek penekanan yang berbeda dalam proses implikasinya.
Teori-teori tersebut antara lain teori behavioristik, teori belajar kognitif,
teori belajar kostruktivistik, teori belajar humanistik, teori belajar
sibernetik, teori belajar sosial kultural dan teori kecerdasan ganda.
A.
TEORI
BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Pengertian
belajar menurut pandangan teori behavioristik, adalah perubahan tingkah laku
sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang
dianggap telah belajar jika ia telah menunjukan perubahan tingkah laku.
Menurut teori
ini, yang terpenting adalah masukan atau input yang berupa stimulus dan
keluaran atau out put yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi diantara
stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan, karena tidak dapat
diamati dan diukur. Yang hanya dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh
karena itu apa saja yang diberikan guru (stimulus), dan apa yang dihasilkan
siswa (respon), semuanya dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan
pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat
terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting dari teori
behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat
memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive
reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan
dikurangi (negative reinforcement) respon akan tetap dikuatkan.
Tokoh-tokoh penting dalam teori behavioristik antara
lain :
1.
Torndike,
meurutnya belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Teori
Torndike ini disebut juga aliran koneksionisme (Connectionism)
2.
Watson,
menurutnya belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun
stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat
diamati (observabel) dan dapat diukur.
3.
Clark
Hull, menurutnya belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon,
namun menurutnya setiap stimulus yang diberikan harus berhubungan dengan
kebutuhan dan pemuasan biologis.
4.
Edwin
Guthrie, menurutnya belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon,
dimana stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan dan pemuasan bilogis.
Dijelaskan bahwa hubungan antara stimulus dan respon cendrung hanya bersifat
sementara. Oleh sebab itu dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering
mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat
tetap.
5.
Skinner,
menurutnya belajar adalah hubungan antara stimulus dan respon yang
terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulakn
perubahan tingkah laku. Dikatakan bahwa respon yang diberikan seseorang/siswa
tidaklah sesederhana itu, sebab pada dasrnya stimulus-stimulus yang diberikan
kepada seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara
stimulus-stimulus tersebut akan mempengaruhi bentuk respon yang akan diberikan.
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahw kegiatan
belajar ditekankan sebagai aktivitas ”mimetic” yang menuntut siswa untuk
mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi
pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pembelajaran dan
evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar.
Jawaban yang benar menunjukan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.
B.
TEORI
BELAJAR KOGNITIF DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Pengertian
belajar menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pemehaman, yang
tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi
teori ini adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman
yang telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang telah dimilikinya.
Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau informasi
baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang. Teori
kognitif lebih mementingkan proses belajar bukan pada hasil belajar.
Teori ini
berpendapat bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup
ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan aspek-aspek kejiwaan lainnya.
Belajar merupakan aktifitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat
kompleks.
Dalam
praktek-praktek pembelajaran, teori-teori kognitif antara lain tampak dalam
rumusan-rumusan seperti ”tahap-tahap perkembangan” oleh J.Piaget, Advanced
organizer oleh Ausebeel, pemahaman konsep oleh Brunner, hirarki belajar oleh
Gagne, Webteaching oleh Norman dan sebagainya.
Diantara para pakar teori kognitif, paling tidak ada
tiga yang terkenal yaitu:
1.
J.Piaget,
menurutnya kegiatan belajar terjadi sesuai dengan pola-pola perkembangan
tertentu dan umur seseorang, serta melalui proses asimilasi, akomodasi dan
equilibrasi. Tahap-tahap perkembangan itu adalah :
·
Tahap
Sensorimotor (umur 0-2 tahun)
·
Tahap
preoperasional (umur 2-7/8 tahun)
·
Tahap
operasional konkret (umur 7/8-11/12 tahun)
·
Tahap
operasional formal (umur 11/12-18 tahun)
Menurutnya , proses belajar akan terjadi jika melalui
tahap-tahap asimilasi, akomodasi dan equilibrasi/penyeimbangan. Asimilasi
merupakan proses pengintegrasian atau penyatuan informasi baruke dalam struktur
kogniitif yang telah dimiliki oleh seseorang. Akomodasi merupakan proses
penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru, sedangkan equilibrasi
merupakan penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
2.
Brunner,dengan
teorinya free discovery learning mengatakan bahwa belajar terjadi lebih
ditentukan oleh cara seseorang mengatur pesan/informasi, dan bukan ditentukan
oleh umur. Menurut Brunner tahap perkembangan kognitif terjadi melalui tiga
tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu:
·
Tahap
Enaktif, seseorang melakukan aktifitas-aktivitas dalam upayanuntuk memahami
lingkungan sekitarnya, artinya dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan
pengetahuan motorik. Misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dsb.
·
Tahap
Ikonik, seseorang memahami objek-objek/dunianya melalui gambar-gambar dan
visualisasi verbal, maksudnya dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar
melalui bentuk perumpamaan(tampil) dan perbandingan(komparasi).
·
Tahap
Simbolik, seseorang telah mampuh memiliki ide-ide/gagasan-gagasan abstrak yang
sangat mempengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika
3.
Ausubel,
menurutnya bahwa proses belajar terjadi jika seseorang mampuh mengasimilasikan
pengetahuan yang yelah dimilikinya dengan pengetahuan baru. Proses belajar
melalui tahap-tahap memperhatikan stimulus, memahami makna stimulus, menyimpan
dan menggunakan informasi yang sudah dipahami.
C.
TEORI
BELAJAR KONTRUKTIVISTIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Apa pengetahuan itu? Menurut pendekatan
konstruktivistik, pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang
sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap
objek, pengalaman, maupun lingkungannya.
Proses Mengkonstruksi Pengetahuan
1.
Von
Galserfeld, mengemukakan bahwa ada beberapa cara/kemampuan yang diperlukan
dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu:
·
Kemampuan
mengingat dan mengungkapkan kembali pengelaman
·
Kemampuan
membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan
·
Kemampuan
untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada yang lainnya.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi proses mengkonstruksi pengetahuan adalah konstruksi
pengetahuan seseorang yang telah ada, dominan pengetahuan dan jaringan struktur
kognitif yang dimilikinya.
Proses belajar
aebagai suatu usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalaman melalui proses
asimilasi dan akomodasi, akan membentuk suatu konstruksi pengetahuan yang
menuju pada kemutakhiran struktur kognitif. Guru-guru konstruktivistik yang
mengakui dan menghargai dorongan diri manusia/siswa untuk mengkonstruksikan
pengetahuannya sendiri, kegiatan pembelajaran yang dilakukannya akan diarahkan
agar terjadi aktivitas konstruksi pengetahuan oleh siswa secara optimal.
Karakteristik
pembelajaran yang dilakukannya adalah:
a.
Membebaskan
siswa dari belenggu kurikulum yang berisi fakta-fakta lepas yang sudah
ditetapkan, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan
ide-idenya secara lebih luas.
b.
Menempatkan
siswa sebagai kekuatan timbulnya interes, untuk membuat hubungan diantara
ide-ide atau gagasannya, kemudian memformulasikan kembali ide-ide tersebut,
serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
c.
Guru
bersama-sama siswa mengkaji pesan-pesan penting bahwa dunia adalah kompleks,
dimana terdapat bermacam-macam pandangan tentang kebenaran yang datang dari
berbagai interpretasi.
d.
Guru
mengakui bahwa proses belajar serta penilaiannya merupakan suatu usaha yang
kompleks, sukar dipahami, tidak benar dan tidak mudah dikelolah.







0 komentar:
Posting Komentar